Monday, June 22, 2020

MAAF, TAPI INI SELALU PERTAMA


Masih irama berulang yang terkisah di setiap lembar cerita manusia, seperti kutukan yang tak pernah mampu dilepas. Sampai saat ini, pertemuan masih terikat kontrak dengan perpisahan. Namun, tidak semua perpisahan itu menyakitkan. Bukankah ada yang mendambakannya? Aku salah satunya. Tapi itu awalnya saja. Saat aku belum mengerti bahwa setiap pertemuan membawaku pada kisah dan kasih yang tak terkira.

Jika waktu selalu memberikan putaran hari yang sama, aku bersyukur karena hari selalu menempatkanku pada alur cerita yang berbeda.

Satu rentan waktu telah menjebakku. Berada di dunia baru yang sama sekali tidak aku mengerti, aku pun tidak berani menuntut dunia untuk mengertiku. Pasrah. Aku menyerahkan diri pada alur. Hingga dipertengahan jalan aku mulai menyadari, pertemuan kisah pertama ini akan berakhir.

Pagi yang dingin karena ac memang masih menyala. Sunyi. Belum ada keberanian melontarkan canda untuk tertawa. Meski tidak terlalu luas, ruangan ini mampu menaungi aku, Gina, Bara dan Oki dengan 2 meja yang masih enggan untuk kita kuasai.

Aku dan Gina yang sudah akrab saja kehilangan kosa kata untuk memecah suasana. Apalagi dengan Bara dan Oki yang baru aku kenali.

“Kamu namanya siapa?” Bara yang bertanya, sepertinya, karena akupun juga masih belum menghafal yang mana Bara dan Oki.

“Hai, aku Lisa” barang mengucap nama sendiri saja aku takut salah.

Tak butuh pupuk atau air untuk menyuburkan persahabatan kita. Topik pembahasan seputar candi, sejarah, dan budaya telah berhasil mengakrabkan kita sampai pada tahap ‘sedih untuk berpisah’ dan level teratas untuk ‘selalu rindu’.

Bukan ikatan bunga yang setiap hari kita saling berikan. Hanya senyuman dan sapaan yang dinanti untuk giliran membalasnya. Waktu bersama untuk sekedar jalan-jalan, makan, mengerjakan tugas kantor menjadi perekat tali persahabatan pertama bagi Bara, Oki, Gina dan aku.

Memang pertama, sebab belum pernah kita berempat bersama seperti ini. Istimewa, iya. Namun ada hal yang ingin kusampaikan. Bahwa setiap orang adalah pertama dan istimewa. Karena bagiku, waktu selalu baru. Dibalik sanjungan keistimewaan ini, pasti sudah berlalu kisah dan kasih dengan orang yang sama-sama kusebut pertama dan istimewa. Jika pada semua kusebut istimewa, dimana istimewanya? Ini bukan hukum jual beli yang ketika diobral malah mengurangi esensi keberhargaannya. Ini adalah ungkapan untuk kamu yang datang dengan dirimu sendiri, untuk bertukar dan berbagi kisah, untuk datang dan pergi, untuk berkembang, untuk saling mengenal dengan manusia lain.

Persahabatan bukan antrian yang perlu dinomori. Menjadikannya selalu pertama, tanpa menghadang kisah yang kedua. Tapi dengan kisah ini, aku merasa seperti melupakan kisahku yang sebelumnya. Namun waktu menghadirkan kalian untuk membangun rindu baru, mengalihkan rinduku pada mereka yang lebih dulu terpisah waktu.

Tetap saja, Bara, Oki dan Gina adalah siang yang melengkapi malamku untuk menjadi hari yang utuh. Meski kini sampai pada masanya, semua yang berlangsung akan berakhir. Kisah klasik yang sempat membuatku merasa menjadi ratu, mendapatkan waktu dan perhatian untuk dihabiskan bersama.

Perpisahan tidak salah karena waktu selalu tepat mengantarkan mereka disetiap ujung pertemuan. Tak pernah ingkar, tak bisa juga ditawar. Yang ingin kusalahkan adalah kenyamanan, karena ia datang tanpa perkenalan dan melukai hati disetiap perpisahan. Sebuah kesalahan yang membahagiakan. Pun tanpa kenyamanan, pertemuanlah yang akan menjadi tak berarti.

Entah apa pengukur kenyamanan ini, karena hati sudah kutitipkan. Sebab, aku takut keliru untuk mengajaknya dalam berkisah. Jika kalian memiliki hak untuk tahu, akan kupenuhi. Bahwa aku tidak berhenti berdebar dan gemetaran merangkai huruf untuk menyampaikan. Bahagiaku adalah ketika aku tahu kita punya harapan yang sama untuk menjadikan masing-masing sebagai yang berarti. Berharap persahabatan pertama diantara kita akan berjalan selamanya, di tengah kemungkinan kehadiran ‘persahabatan pertama’ yang lainnya.

Kita tunggu momen untuk bertanya kabar, yang pada inti jawabannya adalah baik-baik saja.



No comments:

Post a Comment

MAAF, TAPI INI SELALU PERTAMA

Masih irama berulang yang terkisah di setiap lembar cerita manusia, seperti kutukan yang tak pernah mampu dilepas. Sampai saat ini, pertem...