Monday, June 22, 2020

MAAF, TAPI INI SELALU PERTAMA


Masih irama berulang yang terkisah di setiap lembar cerita manusia, seperti kutukan yang tak pernah mampu dilepas. Sampai saat ini, pertemuan masih terikat kontrak dengan perpisahan. Namun, tidak semua perpisahan itu menyakitkan. Bukankah ada yang mendambakannya? Aku salah satunya. Tapi itu awalnya saja. Saat aku belum mengerti bahwa setiap pertemuan membawaku pada kisah dan kasih yang tak terkira.

Jika waktu selalu memberikan putaran hari yang sama, aku bersyukur karena hari selalu menempatkanku pada alur cerita yang berbeda.

Satu rentan waktu telah menjebakku. Berada di dunia baru yang sama sekali tidak aku mengerti, aku pun tidak berani menuntut dunia untuk mengertiku. Pasrah. Aku menyerahkan diri pada alur. Hingga dipertengahan jalan aku mulai menyadari, pertemuan kisah pertama ini akan berakhir.

Pagi yang dingin karena ac memang masih menyala. Sunyi. Belum ada keberanian melontarkan canda untuk tertawa. Meski tidak terlalu luas, ruangan ini mampu menaungi aku, Gina, Bara dan Oki dengan 2 meja yang masih enggan untuk kita kuasai.

Aku dan Gina yang sudah akrab saja kehilangan kosa kata untuk memecah suasana. Apalagi dengan Bara dan Oki yang baru aku kenali.

“Kamu namanya siapa?” Bara yang bertanya, sepertinya, karena akupun juga masih belum menghafal yang mana Bara dan Oki.

“Hai, aku Lisa” barang mengucap nama sendiri saja aku takut salah.

Tak butuh pupuk atau air untuk menyuburkan persahabatan kita. Topik pembahasan seputar candi, sejarah, dan budaya telah berhasil mengakrabkan kita sampai pada tahap ‘sedih untuk berpisah’ dan level teratas untuk ‘selalu rindu’.

Bukan ikatan bunga yang setiap hari kita saling berikan. Hanya senyuman dan sapaan yang dinanti untuk giliran membalasnya. Waktu bersama untuk sekedar jalan-jalan, makan, mengerjakan tugas kantor menjadi perekat tali persahabatan pertama bagi Bara, Oki, Gina dan aku.

Memang pertama, sebab belum pernah kita berempat bersama seperti ini. Istimewa, iya. Namun ada hal yang ingin kusampaikan. Bahwa setiap orang adalah pertama dan istimewa. Karena bagiku, waktu selalu baru. Dibalik sanjungan keistimewaan ini, pasti sudah berlalu kisah dan kasih dengan orang yang sama-sama kusebut pertama dan istimewa. Jika pada semua kusebut istimewa, dimana istimewanya? Ini bukan hukum jual beli yang ketika diobral malah mengurangi esensi keberhargaannya. Ini adalah ungkapan untuk kamu yang datang dengan dirimu sendiri, untuk bertukar dan berbagi kisah, untuk datang dan pergi, untuk berkembang, untuk saling mengenal dengan manusia lain.

Persahabatan bukan antrian yang perlu dinomori. Menjadikannya selalu pertama, tanpa menghadang kisah yang kedua. Tapi dengan kisah ini, aku merasa seperti melupakan kisahku yang sebelumnya. Namun waktu menghadirkan kalian untuk membangun rindu baru, mengalihkan rinduku pada mereka yang lebih dulu terpisah waktu.

Tetap saja, Bara, Oki dan Gina adalah siang yang melengkapi malamku untuk menjadi hari yang utuh. Meski kini sampai pada masanya, semua yang berlangsung akan berakhir. Kisah klasik yang sempat membuatku merasa menjadi ratu, mendapatkan waktu dan perhatian untuk dihabiskan bersama.

Perpisahan tidak salah karena waktu selalu tepat mengantarkan mereka disetiap ujung pertemuan. Tak pernah ingkar, tak bisa juga ditawar. Yang ingin kusalahkan adalah kenyamanan, karena ia datang tanpa perkenalan dan melukai hati disetiap perpisahan. Sebuah kesalahan yang membahagiakan. Pun tanpa kenyamanan, pertemuanlah yang akan menjadi tak berarti.

Entah apa pengukur kenyamanan ini, karena hati sudah kutitipkan. Sebab, aku takut keliru untuk mengajaknya dalam berkisah. Jika kalian memiliki hak untuk tahu, akan kupenuhi. Bahwa aku tidak berhenti berdebar dan gemetaran merangkai huruf untuk menyampaikan. Bahagiaku adalah ketika aku tahu kita punya harapan yang sama untuk menjadikan masing-masing sebagai yang berarti. Berharap persahabatan pertama diantara kita akan berjalan selamanya, di tengah kemungkinan kehadiran ‘persahabatan pertama’ yang lainnya.

Kita tunggu momen untuk bertanya kabar, yang pada inti jawabannya adalah baik-baik saja.



LEGEND OF RORO MENDUT AND PRANACITRA : JAVANESE ROMEO AND JULIET

Long long ago, on the northern bank of Java, exactly on the shoreline of Pati, Central Java, there was an anglers village, Teluk Cikal. The village was a part of Pati which was ruled by Adipati Pragolo II. Pati was one of areas vanquished by Mataram Sultanate ruled by Sultan Agung.

In Teluk Cikal village, there lived a young lady named Roro Mendut. She was pretty beautiful. Furthermore, she could straight forward-ly dismissed men proposing her, as she had young man whom she cherished, Pranacitra, the son of Nyai Singabarong, a rich seller.

Oneday, her magnificence was heard by Adipati Pragolo II. What's more, he needed to make her as his concubine. He had asked her thousand times, however Roro Mendut continued dismissing him. He was disillusioned and he sent couple of troops to kidnap her when she was drying fish close-by shoreline.

“Hey, you must go with us to the castle!” said the troops roughly and pulled her.

She made an attempt to get away from the troops yet she fizzled. They conveyed Roro Mendut to horse carriage and took her to castle. As future concubine, she should remain inside the royal residence (pingit = old Javanese custom for young lady before her wedding day), and she was joined by Ni Semangka and her assistance Genduk Duku).

When she was in pingit period, Pati Rule was flaming. Sultan Agung denounced Adipati Pragolo II as insubordination as he would not like to send tribute to Mataram. Sultan Agung assaulted Pati, and drove the ambush himself. Depend on the folktale, Sultan Agung couldn't hurt him as Adipati Pragolo wore armor of kere waja. Seeing this the umbrella holder of Sultan Agung , Ki Nayadarma, requested that Sultan Agung battle with Adipati Pragolo II. Sultan Agung permitted him and gave him Baru Klinting lance.

Ki Nayadarma battled with Adipati Pragolo II, however Adipati Pragolo II could keep away from each assault from Nayadarma. At the point when Adipati Pragolo was reckless, Ki Nayadarma cut Adipati Pragolo II with Baru Klinting lance, to part of body revealed by shield. Adipati Pragolo II kicked the bucket.

All troops driven by Tumenggung Witaguna plundered Pati, including Roro Mendut. Tumenggung Wiraguna was hypnotized by Roro Mendut excellence and he conveyed Roro Mendut to Mataram to be his concubine. Tumenggung Wiraguna induced her to be his concubine, however she dismissed, moreover she said honestly that she had a sweetheart as of now, Pranacitra. Her honesty made Tumenggung Wiraguna irate.

He at last compromised that on the off chance that she would not like to be his significant other, she should make good on regulatory expense to Mataram. Roro Mendut was not perplexed of that danger. She liked to cover government obligation than being Wiraguna's concubine. Checked by Mataram troopers, Roro Mendut was permitted to offer cigarettes at market. Tumenggung Wiraguna concurred, and Roro Mendut could offer her cigarettes well, even men swarmed purchasing cigarettes that she had smoked. She was famous in the market for her cigarettes and for her magnificence.

Oneday, when she was offering cigarretes, she met Pranacitra who desired her. Pranacitra attempted to figure out how to get Roro Mendut out of Mataram. Roro Mendut disclosed to her gathering with Pranacitra to Princess Arumardi, one of Wiraguna's concubine, trusting that she could assist her with escaping. Roro Mendut realized that Princess Arumardi did not concur Wiraguna would make another concubine. Princess Arumardi and Nyai Ageng (another Wiraguna's concubine), arranged an approach to get Roro Mendut out of the royal residence. Roro Mendut and Pranacitra attempted to come back to their hometown, Pati.

Sadly, Roro Mendut and Pranacitra escape was detected by Wiraguna, and they were found by Wiraguna. Roro Mendut was taken to Mataram and discreetly he requested his men to slaughter Pranacitra. Pranacitra passed on and wasburied in a little woods in Ceporan, Gandhu, 9 km east of Yogyakarta.

Wiraguna at that point requested that Roro Mendut be his concubine. In any case, Roro Mendut rejected him once more, at last he told her regarding the demise of Pranacitra. Mendut did not trust that and said that she saw him yesterday. Tumenggung Wiraguna at that point took her to Pranacitra's grave. She cried at the grave of Pranacitra.

Not a long way from the grave of Pranacitra, Roro Mendut threated Tumenggung Wiraguna that she would reveal to Sultan Agung about this. Tumenggung Wiraguna was furious and he drew Roro Mendut home. She attempted to get free of Wiraguna, when she could discharged herself she drew Wiraguna's creese, and raced to her darling's grave. Wiraguna pursued her. Roro Mendut slaughtered herself, and Wiraguna neglected to stop her . She cut herself with creese and she tumbled to Pranacitra's grave.

Wiraguna was exceptionally sad for his misstep. In any case, his sorry was pointless everything had occurred. To revise his oversight, Wiraguna covered Roro Mendut at indistinguishable grave from Pranacitra. That was the story of Roro Mendut battling for her poise and dependability.





(First Runner Up Creatival 2018)

LANGIT, AKU PESAN HUJAN



Aku mengagumi hujan. Tetap selalu datang meski tidak dipanggil, tidak dengan lembut disambut, bahkan malah disalahkan dan dimaki ketika tetesannya membasahi. Layaknya hujan, hadirlah pada setiap orang dengan apa adanya meski mereka menolak. Hampiri. Mereka hanya belum sadar bahwa mereka butuh kita.

Untung saja hujan bukan kamu. Aku tidak yakin kamu mampu segigih itu menyapa duluan. Kalau sampai hujan berhenti datang, seperti kamu yang berhenti berjuang, bumi ini yang menderita kekeringan. Lalu, hujan lagi yang disalahkan. Itu sebabnya setiap hujan datang aku ingin segera menjemputnya. Memeluk setiap tetes airnya yang terjatuh, tinggi jauh tapi tidak juga menyakiti permukaan yang mereka sentuh.

“Pakai nih mantel kamu,” kata Anda, lengkapnya Gladiandra. Namanya juga teman, pasti suka milih gampangnya aja.

Langit rata tertutup mendung. Rasanya akan sampai malam jika harus menunggu berhentinya kiriman hujan. Untuk ukuran yang bukan bocah lagi, pelukanku dengan gerombolan tetesan air harus berbatas jas hujan.

Tidak biasanya aku bersama Anda. Kebetulan, dosenku hari ini meminta kelas pengganti jam 7. Ragu tidak bisa jalan cepat, aku lebih memilih menghubungi Anda untuk minta jemput. Dan benar pilihanku. Dengan Anda, waktu tempuh ke kampus bisa dua kali lebih cepat.

“Sebenernya nggak pakai juga nggak apa-apa sih. Aku suka hujan kok,” tawarku.

“Rena-ku sayang, aku minta kamu pakai jas hujan bukan karena aku gak mau kamu kedinginan, sakit, make up luntur, atau apalah itu,” warga gang sebelah ini memang suka bikin orang lain mengira kita pacaran.

“Terus?” keningku berkerut.

“Apa kata orang nanti. Aku aman sementara kamu di belakang kuyup. Ntar dikiranya aku cowok kejam, ga peduli, tega sama cewek. Belum lagi ntar ada yang diem-diem fotoin kita terus unggah di media sosial. Hmmm jaman sekarang lihat dikit, komen. Mana komennya ngga dikit,” paham kan kenapa aku ga biasa bareng dia.

“Gamau ‘dicoreng-coreng’ tuh mukanya,” sambil ku pakai aja biar cepat.

Aku sedikit kesulitan memakai bajunya karena tasku besar. Ritsletingnya ga bisa dibenerin.
“Ayo jalan,” cengengesan gitu. Ga liat apa sini mantelnya masi kebuka. Karena teman cowok itu paling bisa direpotin manja, kuserahin pada kedua tangan Anda. Terima beres aja.

Gerbang kampus terbuka lebar. Mau panas, mendung, hujan, tidak ada bedanya. Kedua roda motor ini tetap berputar melewati jalanan yang basah. Banjir lebih tepatnya. Air yang harusnya mengalir di selokan, kini turut berjalan di permukaan aspal. Benar-benar deras merata.

Aku menikmati suguhan pemandangan. Semua daun milik pohon di pinggir jalan, biasanya menjerit risih atas polusi. Tapi sekarang aku melihat mereka seakan-akan tersenyum dengan guyuran air yang melunturkan debu dan mengembalikan kehijauannya. Segar. Satu kata yang mewakili kesejukan, kebersihan, dan kedamaian. Ternyata yang tersenyum adalah aku. Sambil memejamkan mata dan merentangkan kedua tangan. Sampai-sampai pengendara motor di belakangku membunyikan klakson dan berteriak,

“Dek tangannya tu lho. Bahayaa!”

Seketika senyumku membeku. Mataku terbuka. Tanganku menyingkap, memeluk diriku sendiri. Terkejut. Benar kata bapak-bapak itu. Bahaya. Untung ga dimarahin panjang lebar. Cukup keras aja.
Tak kalah kaget, Anda langsung bertanya,

“Kenapa, Ren?” dengan nada agak teriak. Maklum namanya juga di jalan.

“Nggak apa-apa sih. Hehehe..,” kalau aku cerita ntar dikira halu.

“Jangan ngelamun. Nanti jatuh, repot.”

Kujawab dengan senam mulut saja.

Sebelum sampai di sebuah persimpangan, air rupanya diam tak mau mengalir. Entah mulus entah berlubang, jalanan tidak menampakkan fisiknya. Kenapa aku pilih bareng Anda, bukan yang lain, karena dia selalu hati-hati mengendarai motor apalagi kalau sama cewek. Pelan-pelan. Berhubung jalanan umum, yang melintas tentunya bukan cuma aku dan Anda.

Terlalu fokus menatap ke depan, tanpa disadari, dari belakang ada sebuah mobil melaju cukup stabil, kencang juga. Ban mobil yang nampak gagah, hitam, basah, menggilas jalanan tanpa segan-segan. Air yang menggenang dan yang baru saja turun, seketika naik seperti ditarik kembali oleh sang langit. Setinggi mobilnya, bahkan lebih. Keren bukan? Dan itu terjadi tepat di sampingku ketika sang mobil hendak mendahului. Nikmatnya kena guyuran tambahan.

Anda dan aku teriak, tapi tak sama. Mungkin Anda agak kesal. Ya maklum saja. Setiap orang punya perasaan sendiri-sendiri. Aku justru girang. Saat air itu menerpa, aku langsung memejamkan mata. Padahal kaca helmku tertutup rapat. Lalu ku lihat airnya segera turun, mengalir di setiap permukaan mantelku. Jatuh lagi. Jadi, begini rasanya didatangi, lalu ditinggal pas lagi senang-senangnya? Hanya bekas tetesan saja yang masih menetap.

“Wah gila, sih. Basaaah..,” Anda menggerutu dengan tetap memperhatikan jalan, lampu lalu lintas yang kebetulan merah.

“Namanya juga hujan. Ya basah lah. Kan kita pake mantel. Aman udah.”

Hujannya wajar bikin basah. Orang yang jatuh air. Kalau yang jatuh harta warisan, baru deh diguyur kekayaan. Memiliki satu mantel ini saja sudah cukup membuatku merasa kaya. Mengendarai satu motor berdua, mantelnya pun dua. Sendiri-sendiri.

Pikiranku terbang menuju masa lalu. Jaman dulu, ketika masih setinggi pohon tomat dengan bunganya yang menandakan panen akan datang. Di ketinggian segitu, sang pohon sudah dapat membuahkan hasil, sementara aku masi digandeng dan digendong oleh ayahku. Saat dimana kebutuhan yang dibeli masih sebatas permen, es krim dan obat cacing jika ibuku yang membelikan.

Dulu, saat hujan, ayah langsung mengeluarkan mantelnya dari bagasi skuter. Mantel ayah tidak seperti baju. Berbentuk segi panjang dengan satu lubang ditengah untuk bagian kepala, membuat sisi depan dan belakang mengelebat seperti kelelawar. Mantel Batman namanya.

Dan iritnya, cukup ayah saja yang memakai mantel. Aku dan ibu bersembunyi dibalik sayap belakang. Jangan salah, mantel ayah itu panjang, lebar, dan sangat menaungi anggota keluarganya. Dari kami bertiga, hanya ayah yang melihat jalan. ‘Berlindunglah kalian di belakang ayah! Biarkan ayah yang menerjang hujan ini agar segera sampai rumah,’ begitu kiranya kalau ayah membahasakan ekspresinya.

Mungkin ayah tidak ingin kami basah dan kedinginan. Benar, di dalam mantel aku sama sekali tidak kedinginan. Malah justru gerah. Aku hanya menunduk. Mau menghadap depan, terhalang punggung ayah. Menoleh ke kanan dan kiri, menatap mantel warna coklat, secoklat kardus pindahan. Pemandangan statis.

Berbeda dengan yang di bawah, aku bisa melihat jalanan. Air hujan yang menetes dari sisi ujung mantel. Sesekali genangan yang terlewati menyipratkan airnya secara tidak teratur. Yang seperti itu tidak berlangsung lama. Orang tuaku tidak pernah berteman dengan hujan deras. Mungkin demi aku. Pasti hanya gerimis yang bisa meyakinkan ayah untuk memulai perjalanan. Jadi, beberapa menit kemudian biasanya hujan berhenti.

Lama-lama aku bingung. Pusing. Menunduk. Melihat jalanan basah. Rasa-rasanya aku yang diam dan jalannya yang bergerak. Bergeraknya mundur pula.

“Bu, ini sampai mana?” padahal di sepanjang jalan aku memperhatikan jalanan, merasakan kalau sedang belok. Tapi, pusing. Kayaknya dari tadi belok terus, kok gak sampai-sampai.

“Sabar, dek. Bentar lagi sampai kok,” nada ibu tidak pernah berubah. Menenangkan.

Sampailah kami di rumah dalam keadaan kering dan selamat. Meskipun mengalami masa yang pengap, aku selalu bersyukur ayah punya mantel Batman. Tidak pernah terlintas mantel lain untuk ku beli. Di samping tidak tahu kalau ada yang bentuknya baju, tidak tahu beli dimana, tidak punya uang, ya memang karena mantel itu sudah sangat cukup melindungi kami dari hujan. Mantel dengan keleluasaannya menyatukan dan menghangatkan keluarga kecilku dalam satu pelukan.

Lamunanku buyar. Pikiranku terdorong kembali ke masa depan saat Anda mengerem mendadak.

“Maaf.. maaf.. aku lupa kalau sama kamu. Jadi lupa kalau harus belok gang yang ini,” Anda menerangkan.

“Kamu tu.., kaget tau,” kata-kataku masih tertahan, belum sepenuhnya kembali dari lamunan.

“Namanya juga lupa. Mana inget.”

Aku tidak banyak menjawab. Soalnya aku sendiri juga tidak memperhatikan jalan.

Kesadaranku semakin penuh seraya memperhatikan jas hujan yang ku pakai. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur atas apa yang ku miliki, semuanya berguna. Jas hujan yang banyak kembarannya ini, yang ku pakai sendiri, yang tidak ku bagi-bagi seperti mantel milik ayah, hanya ingin melindungiku lebih rapat dari dinginnya hujan saat ini. Hujan yang mengguyurku disaat aku tidak bersama ayah, ibu dan sayap Batman.

Ku angkat kepalaku setelah lama menunduk, akhirnya mataku menangkap pagar besi warna coklat. Artinya, rumah hanya tinggal beberapa putaran roda lagi. Anda memberhentikan motornya didepan pagar. Ditolehnya kebelakang hendak bilang, ‘sudah sampai istana, Tuan Putri.’ Tapi aku sudah lebih dulu meloncat turun dari motor.

“Etdaaah girang amat sampe rumah,” heran si Anda.

“Bodoamat. Thanks Anda-ku yang ganteng. Hati-hati pulangnya. Daaaah..,” aku ayunkan tanganku untuk Anda sambil menikmati hujan dari pagar sampai teras rumah.

“Besok mau dijemput lagi gak?” Anda teriak sambil mengangkat kaca helmnya.

Aku mengangguk saja supaya kalau hujan aku bisa menikmati pemandangan, lagi.





Etnika 2018

SUDUT LAIN MASIH MEMANDANG


Maklum, namanya juga manusia. Aku pun tidak ingin mengadakan alasan untuk menyanggah. Pada dasarnya setiap orang ingin selalu didahulukan. Tapi, aku tidak begitu yakin bahwa setiap orang sadar, disaat mereka didahulukan, ada orang lain yang mengalah walau hanya satu langkah.

Aku dan Tara tiba di sebuah persimpangan. Perlu memotong jalan dan belok kanan agar bisa melanjutkan perjalanan pulang. Kebetulan, saat itu, lampu lalu lintas sedang mati. Kendaraan di depanku saling melaju. Membiarkanku dan Tara yang hanya bisa diam menunggu. Lampu yang terlihat sepele itu, nyatanya sangat berpengaruh untuk melatih orang berbagi jalan.

Bertemu kemacetan yang seharusnya tidak ada, cukup melatih keterampilan dalam mengendarai sepeda motor. Disaat mobil-mobil berhenti, pengendara sepeda motor bisa tetap menjaga dua rodanya agar tetap berputar.

“Orang kalau macet bawaannya pengin nyalip. Kalau mepet begini kan ngeri. Awas! Pelan saja,” aku memang tidak bisa diam sepanjang jalan.

“Nggak suka sama bunyi klakson berkali-kali,” ingin tutup kuping saja, tapi aku sudah pakai helm.

“Kan memang semuanya saling menyalip. Aku juga lagi nyalip nih,” Tara menanggapi dengan tetap konsentrasi melewati tepi jalan yang basah. Untungnya tidak deras.

“Karena pada dasarnya semua orang ingin duluan. Ya kayak kita ini.”

“Iya ya, bener. Semua orang penginnya duluan,” dia tidak membantah.

Seperti perkataan terakhir Tara yang mengiyakan pendapatku, sesederhana itu pula aku merasa cukup sabar untuk tidak mengeluh. Terbayang rasanya ada orang yang menyalahkan hujan, menyalahkan lampu yang mati, membenci kemacetan. Ketika ada dua perasaan yang sama-sama tidak mengubah situasi, tidak juga memberhentikan hujan, dan tidak melancarkan arus lalu lintas, masihkah mengeluh menjadi salah satu pilihan?

Awalnya kita memulai perjalanan pulang bersama-sama. Denganku, semuanya lima orang. Bukan salah kemacetan jika kita berpisah-pisah. Tidak ada yang bisa menyamakan perjalanan banyak orang hanya dalam satu rute dan satu hitungan waktu saja, begitu kiranya pikirku. Kampus boleh membuka gerbang membiarkan kita pergi bersama. Namun, pintu rumah Dinar terbuka lebar menyambut kedatangan kami satu per satu.

Didepan rumah, sudah terparkir dua motor yang dikendarai Adi dan Gita yang bisa dikatakan juga mengantar Dinar pulang. Aku dan Tara menjadi yang terakhir. Sebelum semakin larut, Adi segera memimpin diskusi terakhir di malam itu. Tidak banyak perbedaan pendapat. Semua berjalan lancar. Gerimis sudah mereda bersamaan dengan ucapan salam yang menutup perjumpaan kami berlima.

Hanya mereka bertiga yang pamit pulang. Aku memilih menginap di rumah Dinar. Terlalu malam dan lelah, ada saja alasan bagiku untuk bertahan dengan pilihanku sendiri. Semua perlengkapan kuliah untuk besuk pagi sudah kubawa. Kebetulan saat itu, ada tugas pasangan antara aku dan Dinar untuk diselesaikan bersama.

“Kita kebut semalaman nih tugasnya. Baru bisa tidur,” kataku sambil membuka laptop.

“Siap dong. Aku bantu cari info lewat handphone ya,” jawab Dinar dengan semangatnya.

Setiap kali ada tugas yang bukan individu, rasa bingung sudah lebih dulu menghampiri. Aku harus bagaimana. Kalau aku memberi ide, apakah ideku akan dipakai? Atau, siapkah aku kalau ideku ditolak? Bagaimana caranya memberi masukan? Bagaimana pula kalau semuanya diam karena saling mengandalkan ide orang lain? Apa sebaiknya aku diam saja? Tapi aku tidak mau dicap ‘numpang nama’.

Barangkali itu semua hanya perasaanku. Mau tugas individu, berpasangan, kelompok, mungkin semuanya sama saja. Ketika terjebak dalam pandangan yang menyulitkan, aku lebih memilih memejamkan mata sejenak, lalu melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, sisi indah dari pemandangan itu akan terlihat. Bukan menyalahkan apa yang aku lihat, tapi salahku melihat dari sisi yang kurang tepat.

Sebelum hari berganti, tugas sudah siap. Memang keterampilan dan kecekatan mahasiswa selalu terlatih dengan berbagai tugas kebut semalam seperti ini. Laptop sudah aku matikan. Tetapi, Dinar masih sibuk saja dengan gawainya. Entah siapa yang dia hubungi dan apa yang dibahas. Keningnya masi saja berkerut seperti saat mengerjakan tugas tadi.

Persoalan materi apapun, memang tepat kalau pertanyaan ditujukan untuk Dinar. Dia yang paling bisa diandalkan oleh teman-teman. Sesibuk-sibuknya dia, kalau ada pertanyaan pasti akan dijawab, dijelaskan. Selama bukan ujian, dia akan merasa bersalah jika tahu tapi membiarkan teman-temannya kebingungan. Melelahkan memang, itu yang kulihat saat ini.

“Kamu nggak capek tuh, balas semua pesan-pesannya?” aku penasaran.

“Capek lah, pake banget. Tapi kan kasihan mereka kalau belum selesai tugasnya” persis dengan yang tergambar dari raut wajahnya.

Kalau sedang begitu, rasanya semua lari ke Dinar. Tidak ada yang salah. Masalah terselesaikan dan berakhir dengan ucapan-ucapan ‘terima kasih’.

Berbaringlah Dinar disampingku. Aku sudah rebahan 15 menit lebih dulu dari dia. Tapi melihatnya begitu, aku jadi kembali ke menit awal mencium kasur. Menatap langit kamar yang sama, obrolan pengantar tidur ini aku mulai sebelum Dinar benar-benar terlelap memejamkan matanya.

“Banyak banget ya tadi yang tanya tugas?”

“Iya lumayan. Jadi rame gitu banyak yang ng-chat. Suka sih, berasa ‘selalu ada’ untuk yang butuh, gitu.”

“Tapi, …” aku menangkap hal lain yang tersirat dari ungkapan Dinar.

“Suka ngrasa ga sih, kalau orang butuh, kita tu selalu berusaha ada. Masalah selesai, mereka pergi. Nanti ada masalah, datang. Diskusi. Habis itu pergi lagi. Tapi, kalau aku butuh bantuan kok rasanya bingung ya mau lari ke siapa.”

Aku memiringkan badan kearah Dinar. Yang kutahu dia sudah benar. Membantu. Yang teman-teman lakukan pun tidak salah. Mereka hanya memutuskan, kepada siapa mereka harus bertanya, yang bisa dengan tepat dimintai pertolongan.

“Artinya, mereka melihat kamu sebagai orang yang mampu. Mereka yang membuatmu jadi bermanfaat. Kan memang manfaat itu orang lain yang merasakan,” aku mencoba menggali argumen.
“Kalau datang dan pergi, apa ini yang dinamakan ‘datang pas ada maunya’?” Ternyata Dinar pun bisa lari kepadaku.

“Coba ya kita lihat dari sisi lain. Mereka datang dengan masalah yang selalu kamu bisa bantu. Apa hanya itu masalah yang mereka punya? Tentu enggak dong. Lalu apa? Kita yang hanya bisa membantu mereka dalam hal itu-itu saja. Kekurangan kita kalau kita belum bisa membantu dalam hal lain. Dari begitu banyak hal yang kita belum mampu, pantaskah kita menyombongkan diri hanya karena membantu satu hal saja?”

Hening. Mungkin masih dalam proses mencerna kata-kataku yang entah bagaimana bisa memancing tetes airmata Dinar. Terkadang untuk menjadi bermanfaat itu tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah bagaimana caranya untuk sadar, melihat dari banyak sisi untuk mencari tau bahwa sebaik apapun yang kita lakukan, tidak pantas untuk disombongkan. Bahwa setiap kebaikan memang suatu kewajiban. Entah kita sebagai perantara untuk menolong, atau subjek pencari pertolongan.

Kebaikan. Berpotensi menjadi kesombongan dan hal buruk lain jika kita salah memakai kacamata dalam melihatnya. Kesulitan, memang rasanya sulit, penuh masalah. Tetapi, dengan kacamata yang lain, itu adalah kesempatan untuk belajar, mencoba, menalar, bahkan ladang kebaikan lainnya.

“Akan lebih baik jika dalam malam yang sudah makin larut ini, kita tidur saja,” lontarku.

“Kamu tu ya. Kirain mau berpetuah lagi. Yaudah ayo tidur saja,” balas Dinar sambil menarik selimut.




(LCNEHI2019)

Untuk Sebuah Putusan


Kepada pagi yang tidak bisa memilih embun
Kepada ranting yang kehilangan daun
Kepada ombak yang selalu lari
Kepada gunung yang berhenti
Kepadaku yang masi mempertanyakan diri

Adalah tentang hidup yang masih kupelajari
Tentang ketidakpastian yang mengakar abadi
Ketika caramu berkendali tidak dapat kuadaptasi
Namun tidak juga membuatku mati

Bisakah pengetahuan ini disebut kutukan?
Ketika aku hanya tahu tanpa bisa melakukan
Ketika takdir telah menempatkan tanpa pilihan
Mulut terbungkam tak mampu menyatakan
Namun jiwa tak henti meneriakkan

Jika harta adalah yang didewakan,
Aku kalah tanpa pembelaan
Jika akal adalah yang diagungkan
Aku mampu bersuara namun terbentur kesopanan
Jika hati adalah yang diutamakan
Mungkin ada satu yang aku langitkan
Harapan untuk hati yang luas menerima

Ada tetapan yang tak bisa diganti
Perbedaan yang menggiring opini
Hingga pada perasaanlah argumen kembali
Menjadi tahu, tidak selamanya membawa sakit hati
Namun sebuah perluang untuk berganti situasi

Sudah percayakah pada waktu?
Yang mengantarkan kebaikan tanpa ragu
Seandainya dulu mulut lebih diadu
Mungkin luka ini belum sembuh

Tidak semua waktu harus diisi tawa untuk bahagia
Tidak pula menyalahkan sedih dan air mata
Tidak mengiyakan pembenaran diri sendiri
Agar terus tumbuh dan hati-hati
Mungkin begitu cara tuhan menyimpan hidup dalam kemasan misteri


MAAF, TAPI INI SELALU PERTAMA

Masih irama berulang yang terkisah di setiap lembar cerita manusia, seperti kutukan yang tak pernah mampu dilepas. Sampai saat ini, pertem...