Monday, June 22, 2020

SUDUT LAIN MASIH MEMANDANG


Maklum, namanya juga manusia. Aku pun tidak ingin mengadakan alasan untuk menyanggah. Pada dasarnya setiap orang ingin selalu didahulukan. Tapi, aku tidak begitu yakin bahwa setiap orang sadar, disaat mereka didahulukan, ada orang lain yang mengalah walau hanya satu langkah.

Aku dan Tara tiba di sebuah persimpangan. Perlu memotong jalan dan belok kanan agar bisa melanjutkan perjalanan pulang. Kebetulan, saat itu, lampu lalu lintas sedang mati. Kendaraan di depanku saling melaju. Membiarkanku dan Tara yang hanya bisa diam menunggu. Lampu yang terlihat sepele itu, nyatanya sangat berpengaruh untuk melatih orang berbagi jalan.

Bertemu kemacetan yang seharusnya tidak ada, cukup melatih keterampilan dalam mengendarai sepeda motor. Disaat mobil-mobil berhenti, pengendara sepeda motor bisa tetap menjaga dua rodanya agar tetap berputar.

“Orang kalau macet bawaannya pengin nyalip. Kalau mepet begini kan ngeri. Awas! Pelan saja,” aku memang tidak bisa diam sepanjang jalan.

“Nggak suka sama bunyi klakson berkali-kali,” ingin tutup kuping saja, tapi aku sudah pakai helm.

“Kan memang semuanya saling menyalip. Aku juga lagi nyalip nih,” Tara menanggapi dengan tetap konsentrasi melewati tepi jalan yang basah. Untungnya tidak deras.

“Karena pada dasarnya semua orang ingin duluan. Ya kayak kita ini.”

“Iya ya, bener. Semua orang penginnya duluan,” dia tidak membantah.

Seperti perkataan terakhir Tara yang mengiyakan pendapatku, sesederhana itu pula aku merasa cukup sabar untuk tidak mengeluh. Terbayang rasanya ada orang yang menyalahkan hujan, menyalahkan lampu yang mati, membenci kemacetan. Ketika ada dua perasaan yang sama-sama tidak mengubah situasi, tidak juga memberhentikan hujan, dan tidak melancarkan arus lalu lintas, masihkah mengeluh menjadi salah satu pilihan?

Awalnya kita memulai perjalanan pulang bersama-sama. Denganku, semuanya lima orang. Bukan salah kemacetan jika kita berpisah-pisah. Tidak ada yang bisa menyamakan perjalanan banyak orang hanya dalam satu rute dan satu hitungan waktu saja, begitu kiranya pikirku. Kampus boleh membuka gerbang membiarkan kita pergi bersama. Namun, pintu rumah Dinar terbuka lebar menyambut kedatangan kami satu per satu.

Didepan rumah, sudah terparkir dua motor yang dikendarai Adi dan Gita yang bisa dikatakan juga mengantar Dinar pulang. Aku dan Tara menjadi yang terakhir. Sebelum semakin larut, Adi segera memimpin diskusi terakhir di malam itu. Tidak banyak perbedaan pendapat. Semua berjalan lancar. Gerimis sudah mereda bersamaan dengan ucapan salam yang menutup perjumpaan kami berlima.

Hanya mereka bertiga yang pamit pulang. Aku memilih menginap di rumah Dinar. Terlalu malam dan lelah, ada saja alasan bagiku untuk bertahan dengan pilihanku sendiri. Semua perlengkapan kuliah untuk besuk pagi sudah kubawa. Kebetulan saat itu, ada tugas pasangan antara aku dan Dinar untuk diselesaikan bersama.

“Kita kebut semalaman nih tugasnya. Baru bisa tidur,” kataku sambil membuka laptop.

“Siap dong. Aku bantu cari info lewat handphone ya,” jawab Dinar dengan semangatnya.

Setiap kali ada tugas yang bukan individu, rasa bingung sudah lebih dulu menghampiri. Aku harus bagaimana. Kalau aku memberi ide, apakah ideku akan dipakai? Atau, siapkah aku kalau ideku ditolak? Bagaimana caranya memberi masukan? Bagaimana pula kalau semuanya diam karena saling mengandalkan ide orang lain? Apa sebaiknya aku diam saja? Tapi aku tidak mau dicap ‘numpang nama’.

Barangkali itu semua hanya perasaanku. Mau tugas individu, berpasangan, kelompok, mungkin semuanya sama saja. Ketika terjebak dalam pandangan yang menyulitkan, aku lebih memilih memejamkan mata sejenak, lalu melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, sisi indah dari pemandangan itu akan terlihat. Bukan menyalahkan apa yang aku lihat, tapi salahku melihat dari sisi yang kurang tepat.

Sebelum hari berganti, tugas sudah siap. Memang keterampilan dan kecekatan mahasiswa selalu terlatih dengan berbagai tugas kebut semalam seperti ini. Laptop sudah aku matikan. Tetapi, Dinar masih sibuk saja dengan gawainya. Entah siapa yang dia hubungi dan apa yang dibahas. Keningnya masi saja berkerut seperti saat mengerjakan tugas tadi.

Persoalan materi apapun, memang tepat kalau pertanyaan ditujukan untuk Dinar. Dia yang paling bisa diandalkan oleh teman-teman. Sesibuk-sibuknya dia, kalau ada pertanyaan pasti akan dijawab, dijelaskan. Selama bukan ujian, dia akan merasa bersalah jika tahu tapi membiarkan teman-temannya kebingungan. Melelahkan memang, itu yang kulihat saat ini.

“Kamu nggak capek tuh, balas semua pesan-pesannya?” aku penasaran.

“Capek lah, pake banget. Tapi kan kasihan mereka kalau belum selesai tugasnya” persis dengan yang tergambar dari raut wajahnya.

Kalau sedang begitu, rasanya semua lari ke Dinar. Tidak ada yang salah. Masalah terselesaikan dan berakhir dengan ucapan-ucapan ‘terima kasih’.

Berbaringlah Dinar disampingku. Aku sudah rebahan 15 menit lebih dulu dari dia. Tapi melihatnya begitu, aku jadi kembali ke menit awal mencium kasur. Menatap langit kamar yang sama, obrolan pengantar tidur ini aku mulai sebelum Dinar benar-benar terlelap memejamkan matanya.

“Banyak banget ya tadi yang tanya tugas?”

“Iya lumayan. Jadi rame gitu banyak yang ng-chat. Suka sih, berasa ‘selalu ada’ untuk yang butuh, gitu.”

“Tapi, …” aku menangkap hal lain yang tersirat dari ungkapan Dinar.

“Suka ngrasa ga sih, kalau orang butuh, kita tu selalu berusaha ada. Masalah selesai, mereka pergi. Nanti ada masalah, datang. Diskusi. Habis itu pergi lagi. Tapi, kalau aku butuh bantuan kok rasanya bingung ya mau lari ke siapa.”

Aku memiringkan badan kearah Dinar. Yang kutahu dia sudah benar. Membantu. Yang teman-teman lakukan pun tidak salah. Mereka hanya memutuskan, kepada siapa mereka harus bertanya, yang bisa dengan tepat dimintai pertolongan.

“Artinya, mereka melihat kamu sebagai orang yang mampu. Mereka yang membuatmu jadi bermanfaat. Kan memang manfaat itu orang lain yang merasakan,” aku mencoba menggali argumen.
“Kalau datang dan pergi, apa ini yang dinamakan ‘datang pas ada maunya’?” Ternyata Dinar pun bisa lari kepadaku.

“Coba ya kita lihat dari sisi lain. Mereka datang dengan masalah yang selalu kamu bisa bantu. Apa hanya itu masalah yang mereka punya? Tentu enggak dong. Lalu apa? Kita yang hanya bisa membantu mereka dalam hal itu-itu saja. Kekurangan kita kalau kita belum bisa membantu dalam hal lain. Dari begitu banyak hal yang kita belum mampu, pantaskah kita menyombongkan diri hanya karena membantu satu hal saja?”

Hening. Mungkin masih dalam proses mencerna kata-kataku yang entah bagaimana bisa memancing tetes airmata Dinar. Terkadang untuk menjadi bermanfaat itu tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah bagaimana caranya untuk sadar, melihat dari banyak sisi untuk mencari tau bahwa sebaik apapun yang kita lakukan, tidak pantas untuk disombongkan. Bahwa setiap kebaikan memang suatu kewajiban. Entah kita sebagai perantara untuk menolong, atau subjek pencari pertolongan.

Kebaikan. Berpotensi menjadi kesombongan dan hal buruk lain jika kita salah memakai kacamata dalam melihatnya. Kesulitan, memang rasanya sulit, penuh masalah. Tetapi, dengan kacamata yang lain, itu adalah kesempatan untuk belajar, mencoba, menalar, bahkan ladang kebaikan lainnya.

“Akan lebih baik jika dalam malam yang sudah makin larut ini, kita tidur saja,” lontarku.

“Kamu tu ya. Kirain mau berpetuah lagi. Yaudah ayo tidur saja,” balas Dinar sambil menarik selimut.




(LCNEHI2019)

No comments:

Post a Comment

MAAF, TAPI INI SELALU PERTAMA

Masih irama berulang yang terkisah di setiap lembar cerita manusia, seperti kutukan yang tak pernah mampu dilepas. Sampai saat ini, pertem...