Maklum, namanya juga manusia. Aku pun tidak ingin
mengadakan alasan untuk menyanggah. Pada dasarnya setiap orang ingin selalu
didahulukan. Tapi, aku tidak begitu yakin bahwa setiap orang sadar, disaat
mereka didahulukan, ada orang lain yang mengalah walau hanya satu langkah.
Aku dan Tara tiba di sebuah persimpangan. Perlu
memotong jalan dan belok kanan agar bisa melanjutkan perjalanan pulang.
Kebetulan, saat itu, lampu lalu lintas sedang mati. Kendaraan di depanku saling
melaju. Membiarkanku dan Tara yang hanya bisa diam menunggu. Lampu yang
terlihat sepele itu, nyatanya sangat berpengaruh untuk melatih orang berbagi
jalan.
Bertemu kemacetan yang seharusnya tidak ada, cukup
melatih keterampilan dalam mengendarai sepeda motor. Disaat mobil-mobil
berhenti, pengendara sepeda motor bisa tetap menjaga dua rodanya agar tetap
berputar.
“Orang kalau macet bawaannya pengin nyalip. Kalau
mepet begini kan ngeri. Awas! Pelan saja,” aku memang tidak bisa diam sepanjang
jalan.
“Nggak suka sama bunyi klakson berkali-kali,” ingin
tutup kuping saja, tapi aku sudah pakai helm.
“Kan memang semuanya saling menyalip. Aku juga lagi
nyalip nih,” Tara menanggapi dengan tetap konsentrasi melewati tepi jalan yang basah.
Untungnya tidak deras.
“Karena pada dasarnya semua orang ingin duluan. Ya
kayak kita ini.”
“Iya ya, bener. Semua orang penginnya duluan,” dia
tidak membantah.
Seperti perkataan terakhir Tara yang mengiyakan
pendapatku, sesederhana itu pula aku merasa cukup sabar untuk tidak mengeluh. Terbayang
rasanya ada orang yang menyalahkan hujan, menyalahkan lampu yang mati, membenci
kemacetan. Ketika ada dua perasaan yang sama-sama tidak mengubah situasi, tidak
juga memberhentikan hujan, dan tidak melancarkan arus lalu lintas, masihkah
mengeluh menjadi salah satu pilihan?
Awalnya kita memulai perjalanan pulang bersama-sama.
Denganku, semuanya lima orang. Bukan salah kemacetan jika kita berpisah-pisah.
Tidak ada yang bisa menyamakan perjalanan banyak orang hanya dalam satu rute dan
satu hitungan waktu saja, begitu kiranya pikirku. Kampus boleh membuka gerbang
membiarkan kita pergi bersama. Namun, pintu rumah Dinar terbuka lebar menyambut
kedatangan kami satu per satu.
Didepan rumah, sudah terparkir dua motor yang
dikendarai Adi dan Gita yang bisa dikatakan juga mengantar Dinar pulang. Aku
dan Tara menjadi yang terakhir. Sebelum semakin larut, Adi segera memimpin
diskusi terakhir di malam itu. Tidak banyak perbedaan pendapat. Semua berjalan
lancar. Gerimis sudah mereda bersamaan dengan ucapan salam yang menutup
perjumpaan kami berlima.
Hanya mereka bertiga yang pamit pulang. Aku memilih
menginap di rumah Dinar. Terlalu malam dan lelah, ada saja alasan bagiku untuk
bertahan dengan pilihanku sendiri. Semua perlengkapan kuliah untuk besuk pagi
sudah kubawa. Kebetulan saat itu, ada tugas pasangan antara aku dan Dinar untuk
diselesaikan bersama.
“Kita kebut semalaman nih tugasnya. Baru bisa tidur,”
kataku sambil membuka laptop.
“Siap dong. Aku bantu cari info lewat handphone ya,” jawab Dinar dengan semangatnya.
Setiap kali ada tugas yang bukan individu, rasa
bingung sudah lebih dulu menghampiri. Aku
harus bagaimana. Kalau aku memberi ide, apakah ideku akan dipakai? Atau, siapkah
aku kalau ideku ditolak? Bagaimana caranya memberi masukan? Bagaimana pula kalau
semuanya diam karena saling mengandalkan ide orang lain? Apa sebaiknya aku diam
saja? Tapi aku tidak mau dicap ‘numpang nama’.
Barangkali itu semua hanya perasaanku. Mau tugas
individu, berpasangan, kelompok, mungkin semuanya sama saja. Ketika terjebak
dalam pandangan yang menyulitkan, aku lebih memilih memejamkan mata sejenak,
lalu melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, sisi indah dari
pemandangan itu akan terlihat. Bukan menyalahkan apa yang aku lihat, tapi
salahku melihat dari sisi yang kurang tepat.
Sebelum hari berganti, tugas sudah siap. Memang
keterampilan dan kecekatan mahasiswa selalu terlatih dengan berbagai tugas
kebut semalam seperti ini. Laptop
sudah aku matikan. Tetapi, Dinar masih sibuk saja dengan gawainya. Entah siapa
yang dia hubungi dan apa yang dibahas. Keningnya masi saja berkerut seperti
saat mengerjakan tugas tadi.
Persoalan materi apapun, memang tepat kalau pertanyaan
ditujukan untuk Dinar. Dia yang paling bisa diandalkan oleh teman-teman.
Sesibuk-sibuknya dia, kalau ada pertanyaan pasti akan dijawab, dijelaskan.
Selama bukan ujian, dia akan merasa bersalah jika tahu tapi membiarkan
teman-temannya kebingungan. Melelahkan memang, itu yang kulihat saat ini.
“Kamu nggak capek tuh, balas semua pesan-pesannya?” aku
penasaran.
“Capek lah, pake banget. Tapi kan kasihan mereka kalau
belum selesai tugasnya” persis dengan yang tergambar dari raut wajahnya.
Kalau sedang begitu, rasanya semua lari ke Dinar.
Tidak ada yang salah. Masalah terselesaikan dan berakhir dengan ucapan-ucapan
‘terima kasih’.
Berbaringlah Dinar disampingku. Aku sudah rebahan 15
menit lebih dulu dari dia. Tapi melihatnya begitu, aku jadi kembali ke menit
awal mencium kasur. Menatap langit kamar yang sama, obrolan pengantar tidur ini
aku mulai sebelum Dinar benar-benar terlelap memejamkan matanya.
“Banyak banget ya tadi yang tanya tugas?”
“Iya lumayan. Jadi rame gitu banyak yang ng-chat. Suka sih, berasa ‘selalu ada’
untuk yang butuh, gitu.”
“Tapi, …” aku menangkap hal lain yang tersirat dari ungkapan
Dinar.
“Suka ngrasa ga sih, kalau orang butuh, kita tu selalu
berusaha ada. Masalah selesai, mereka pergi. Nanti ada masalah, datang.
Diskusi. Habis itu pergi lagi. Tapi, kalau aku butuh bantuan kok rasanya
bingung ya mau lari ke siapa.”
Aku memiringkan badan kearah Dinar. Yang kutahu dia
sudah benar. Membantu. Yang teman-teman lakukan pun tidak salah. Mereka hanya
memutuskan, kepada siapa mereka harus bertanya, yang bisa dengan tepat dimintai
pertolongan.
“Artinya, mereka melihat kamu sebagai orang yang
mampu. Mereka yang membuatmu jadi bermanfaat. Kan memang manfaat itu orang lain
yang merasakan,” aku mencoba menggali argumen.
“Kalau datang dan pergi, apa ini yang dinamakan ‘datang
pas ada maunya’?” Ternyata Dinar pun bisa lari kepadaku.
“Coba ya kita lihat dari sisi lain. Mereka datang
dengan masalah yang selalu kamu bisa bantu. Apa hanya itu masalah yang mereka
punya? Tentu enggak dong. Lalu apa? Kita yang hanya bisa membantu mereka dalam
hal itu-itu saja. Kekurangan kita kalau kita belum bisa membantu dalam hal
lain. Dari begitu banyak hal yang kita belum mampu, pantaskah kita
menyombongkan diri hanya karena membantu satu hal saja?”
Hening. Mungkin masih dalam proses mencerna
kata-kataku yang entah bagaimana bisa memancing tetes airmata Dinar. Terkadang
untuk menjadi bermanfaat itu tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah bagaimana
caranya untuk sadar, melihat dari banyak sisi untuk mencari tau bahwa sebaik
apapun yang kita lakukan, tidak pantas untuk disombongkan. Bahwa setiap kebaikan
memang suatu kewajiban. Entah kita sebagai perantara untuk menolong, atau
subjek pencari pertolongan.
Kebaikan. Berpotensi menjadi kesombongan dan hal buruk
lain jika kita salah memakai kacamata dalam melihatnya. Kesulitan, memang
rasanya sulit, penuh masalah. Tetapi, dengan kacamata yang lain, itu adalah
kesempatan untuk belajar, mencoba, menalar, bahkan ladang kebaikan lainnya.
“Akan lebih baik jika dalam malam yang sudah makin
larut ini, kita tidur saja,” lontarku.
“Kamu tu ya. Kirain mau berpetuah lagi. Yaudah ayo
tidur saja,” balas Dinar sambil menarik selimut.
(LCNEHI2019)
No comments:
Post a Comment