Monday, June 22, 2020

Untuk Sebuah Putusan


Kepada pagi yang tidak bisa memilih embun
Kepada ranting yang kehilangan daun
Kepada ombak yang selalu lari
Kepada gunung yang berhenti
Kepadaku yang masi mempertanyakan diri

Adalah tentang hidup yang masih kupelajari
Tentang ketidakpastian yang mengakar abadi
Ketika caramu berkendali tidak dapat kuadaptasi
Namun tidak juga membuatku mati

Bisakah pengetahuan ini disebut kutukan?
Ketika aku hanya tahu tanpa bisa melakukan
Ketika takdir telah menempatkan tanpa pilihan
Mulut terbungkam tak mampu menyatakan
Namun jiwa tak henti meneriakkan

Jika harta adalah yang didewakan,
Aku kalah tanpa pembelaan
Jika akal adalah yang diagungkan
Aku mampu bersuara namun terbentur kesopanan
Jika hati adalah yang diutamakan
Mungkin ada satu yang aku langitkan
Harapan untuk hati yang luas menerima

Ada tetapan yang tak bisa diganti
Perbedaan yang menggiring opini
Hingga pada perasaanlah argumen kembali
Menjadi tahu, tidak selamanya membawa sakit hati
Namun sebuah perluang untuk berganti situasi

Sudah percayakah pada waktu?
Yang mengantarkan kebaikan tanpa ragu
Seandainya dulu mulut lebih diadu
Mungkin luka ini belum sembuh

Tidak semua waktu harus diisi tawa untuk bahagia
Tidak pula menyalahkan sedih dan air mata
Tidak mengiyakan pembenaran diri sendiri
Agar terus tumbuh dan hati-hati
Mungkin begitu cara tuhan menyimpan hidup dalam kemasan misteri


No comments:

Post a Comment

MAAF, TAPI INI SELALU PERTAMA

Masih irama berulang yang terkisah di setiap lembar cerita manusia, seperti kutukan yang tak pernah mampu dilepas. Sampai saat ini, pertem...