Kepada pagi yang tidak bisa memilih embun
Kepada ranting yang kehilangan daun
Kepada ombak yang selalu lari
Kepada gunung yang berhenti
Kepadaku yang masi mempertanyakan diri
Adalah tentang hidup yang masih kupelajari
Tentang ketidakpastian yang mengakar abadi
Ketika caramu berkendali tidak dapat kuadaptasi
Namun tidak juga membuatku mati
Bisakah pengetahuan ini disebut kutukan?
Ketika aku hanya tahu tanpa bisa melakukan
Ketika takdir telah menempatkan tanpa pilihan
Mulut terbungkam tak mampu menyatakan
Namun jiwa tak henti meneriakkan
Jika harta adalah yang didewakan,
Aku kalah tanpa pembelaan
Jika akal adalah yang diagungkan
Aku mampu bersuara namun terbentur kesopanan
Jika hati adalah yang diutamakan
Mungkin ada satu yang aku langitkan
Harapan untuk hati yang luas menerima
Ada tetapan yang tak bisa diganti
Perbedaan yang menggiring opini
Hingga pada perasaanlah argumen kembali
Menjadi tahu, tidak selamanya membawa sakit hati
Namun sebuah perluang untuk berganti situasi
Sudah percayakah pada waktu?
Yang mengantarkan kebaikan tanpa ragu
Seandainya dulu mulut lebih diadu
Mungkin luka ini belum sembuh
Tidak semua waktu harus diisi tawa untuk bahagia
Tidak pula menyalahkan sedih dan air mata
Tidak mengiyakan pembenaran diri sendiri
Agar terus tumbuh dan hati-hati
Mungkin begitu cara tuhan menyimpan hidup dalam kemasan misteri
No comments:
Post a Comment