Monday, June 22, 2020

LANGIT, AKU PESAN HUJAN



Aku mengagumi hujan. Tetap selalu datang meski tidak dipanggil, tidak dengan lembut disambut, bahkan malah disalahkan dan dimaki ketika tetesannya membasahi. Layaknya hujan, hadirlah pada setiap orang dengan apa adanya meski mereka menolak. Hampiri. Mereka hanya belum sadar bahwa mereka butuh kita.

Untung saja hujan bukan kamu. Aku tidak yakin kamu mampu segigih itu menyapa duluan. Kalau sampai hujan berhenti datang, seperti kamu yang berhenti berjuang, bumi ini yang menderita kekeringan. Lalu, hujan lagi yang disalahkan. Itu sebabnya setiap hujan datang aku ingin segera menjemputnya. Memeluk setiap tetes airnya yang terjatuh, tinggi jauh tapi tidak juga menyakiti permukaan yang mereka sentuh.

“Pakai nih mantel kamu,” kata Anda, lengkapnya Gladiandra. Namanya juga teman, pasti suka milih gampangnya aja.

Langit rata tertutup mendung. Rasanya akan sampai malam jika harus menunggu berhentinya kiriman hujan. Untuk ukuran yang bukan bocah lagi, pelukanku dengan gerombolan tetesan air harus berbatas jas hujan.

Tidak biasanya aku bersama Anda. Kebetulan, dosenku hari ini meminta kelas pengganti jam 7. Ragu tidak bisa jalan cepat, aku lebih memilih menghubungi Anda untuk minta jemput. Dan benar pilihanku. Dengan Anda, waktu tempuh ke kampus bisa dua kali lebih cepat.

“Sebenernya nggak pakai juga nggak apa-apa sih. Aku suka hujan kok,” tawarku.

“Rena-ku sayang, aku minta kamu pakai jas hujan bukan karena aku gak mau kamu kedinginan, sakit, make up luntur, atau apalah itu,” warga gang sebelah ini memang suka bikin orang lain mengira kita pacaran.

“Terus?” keningku berkerut.

“Apa kata orang nanti. Aku aman sementara kamu di belakang kuyup. Ntar dikiranya aku cowok kejam, ga peduli, tega sama cewek. Belum lagi ntar ada yang diem-diem fotoin kita terus unggah di media sosial. Hmmm jaman sekarang lihat dikit, komen. Mana komennya ngga dikit,” paham kan kenapa aku ga biasa bareng dia.

“Gamau ‘dicoreng-coreng’ tuh mukanya,” sambil ku pakai aja biar cepat.

Aku sedikit kesulitan memakai bajunya karena tasku besar. Ritsletingnya ga bisa dibenerin.
“Ayo jalan,” cengengesan gitu. Ga liat apa sini mantelnya masi kebuka. Karena teman cowok itu paling bisa direpotin manja, kuserahin pada kedua tangan Anda. Terima beres aja.

Gerbang kampus terbuka lebar. Mau panas, mendung, hujan, tidak ada bedanya. Kedua roda motor ini tetap berputar melewati jalanan yang basah. Banjir lebih tepatnya. Air yang harusnya mengalir di selokan, kini turut berjalan di permukaan aspal. Benar-benar deras merata.

Aku menikmati suguhan pemandangan. Semua daun milik pohon di pinggir jalan, biasanya menjerit risih atas polusi. Tapi sekarang aku melihat mereka seakan-akan tersenyum dengan guyuran air yang melunturkan debu dan mengembalikan kehijauannya. Segar. Satu kata yang mewakili kesejukan, kebersihan, dan kedamaian. Ternyata yang tersenyum adalah aku. Sambil memejamkan mata dan merentangkan kedua tangan. Sampai-sampai pengendara motor di belakangku membunyikan klakson dan berteriak,

“Dek tangannya tu lho. Bahayaa!”

Seketika senyumku membeku. Mataku terbuka. Tanganku menyingkap, memeluk diriku sendiri. Terkejut. Benar kata bapak-bapak itu. Bahaya. Untung ga dimarahin panjang lebar. Cukup keras aja.
Tak kalah kaget, Anda langsung bertanya,

“Kenapa, Ren?” dengan nada agak teriak. Maklum namanya juga di jalan.

“Nggak apa-apa sih. Hehehe..,” kalau aku cerita ntar dikira halu.

“Jangan ngelamun. Nanti jatuh, repot.”

Kujawab dengan senam mulut saja.

Sebelum sampai di sebuah persimpangan, air rupanya diam tak mau mengalir. Entah mulus entah berlubang, jalanan tidak menampakkan fisiknya. Kenapa aku pilih bareng Anda, bukan yang lain, karena dia selalu hati-hati mengendarai motor apalagi kalau sama cewek. Pelan-pelan. Berhubung jalanan umum, yang melintas tentunya bukan cuma aku dan Anda.

Terlalu fokus menatap ke depan, tanpa disadari, dari belakang ada sebuah mobil melaju cukup stabil, kencang juga. Ban mobil yang nampak gagah, hitam, basah, menggilas jalanan tanpa segan-segan. Air yang menggenang dan yang baru saja turun, seketika naik seperti ditarik kembali oleh sang langit. Setinggi mobilnya, bahkan lebih. Keren bukan? Dan itu terjadi tepat di sampingku ketika sang mobil hendak mendahului. Nikmatnya kena guyuran tambahan.

Anda dan aku teriak, tapi tak sama. Mungkin Anda agak kesal. Ya maklum saja. Setiap orang punya perasaan sendiri-sendiri. Aku justru girang. Saat air itu menerpa, aku langsung memejamkan mata. Padahal kaca helmku tertutup rapat. Lalu ku lihat airnya segera turun, mengalir di setiap permukaan mantelku. Jatuh lagi. Jadi, begini rasanya didatangi, lalu ditinggal pas lagi senang-senangnya? Hanya bekas tetesan saja yang masih menetap.

“Wah gila, sih. Basaaah..,” Anda menggerutu dengan tetap memperhatikan jalan, lampu lalu lintas yang kebetulan merah.

“Namanya juga hujan. Ya basah lah. Kan kita pake mantel. Aman udah.”

Hujannya wajar bikin basah. Orang yang jatuh air. Kalau yang jatuh harta warisan, baru deh diguyur kekayaan. Memiliki satu mantel ini saja sudah cukup membuatku merasa kaya. Mengendarai satu motor berdua, mantelnya pun dua. Sendiri-sendiri.

Pikiranku terbang menuju masa lalu. Jaman dulu, ketika masih setinggi pohon tomat dengan bunganya yang menandakan panen akan datang. Di ketinggian segitu, sang pohon sudah dapat membuahkan hasil, sementara aku masi digandeng dan digendong oleh ayahku. Saat dimana kebutuhan yang dibeli masih sebatas permen, es krim dan obat cacing jika ibuku yang membelikan.

Dulu, saat hujan, ayah langsung mengeluarkan mantelnya dari bagasi skuter. Mantel ayah tidak seperti baju. Berbentuk segi panjang dengan satu lubang ditengah untuk bagian kepala, membuat sisi depan dan belakang mengelebat seperti kelelawar. Mantel Batman namanya.

Dan iritnya, cukup ayah saja yang memakai mantel. Aku dan ibu bersembunyi dibalik sayap belakang. Jangan salah, mantel ayah itu panjang, lebar, dan sangat menaungi anggota keluarganya. Dari kami bertiga, hanya ayah yang melihat jalan. ‘Berlindunglah kalian di belakang ayah! Biarkan ayah yang menerjang hujan ini agar segera sampai rumah,’ begitu kiranya kalau ayah membahasakan ekspresinya.

Mungkin ayah tidak ingin kami basah dan kedinginan. Benar, di dalam mantel aku sama sekali tidak kedinginan. Malah justru gerah. Aku hanya menunduk. Mau menghadap depan, terhalang punggung ayah. Menoleh ke kanan dan kiri, menatap mantel warna coklat, secoklat kardus pindahan. Pemandangan statis.

Berbeda dengan yang di bawah, aku bisa melihat jalanan. Air hujan yang menetes dari sisi ujung mantel. Sesekali genangan yang terlewati menyipratkan airnya secara tidak teratur. Yang seperti itu tidak berlangsung lama. Orang tuaku tidak pernah berteman dengan hujan deras. Mungkin demi aku. Pasti hanya gerimis yang bisa meyakinkan ayah untuk memulai perjalanan. Jadi, beberapa menit kemudian biasanya hujan berhenti.

Lama-lama aku bingung. Pusing. Menunduk. Melihat jalanan basah. Rasa-rasanya aku yang diam dan jalannya yang bergerak. Bergeraknya mundur pula.

“Bu, ini sampai mana?” padahal di sepanjang jalan aku memperhatikan jalanan, merasakan kalau sedang belok. Tapi, pusing. Kayaknya dari tadi belok terus, kok gak sampai-sampai.

“Sabar, dek. Bentar lagi sampai kok,” nada ibu tidak pernah berubah. Menenangkan.

Sampailah kami di rumah dalam keadaan kering dan selamat. Meskipun mengalami masa yang pengap, aku selalu bersyukur ayah punya mantel Batman. Tidak pernah terlintas mantel lain untuk ku beli. Di samping tidak tahu kalau ada yang bentuknya baju, tidak tahu beli dimana, tidak punya uang, ya memang karena mantel itu sudah sangat cukup melindungi kami dari hujan. Mantel dengan keleluasaannya menyatukan dan menghangatkan keluarga kecilku dalam satu pelukan.

Lamunanku buyar. Pikiranku terdorong kembali ke masa depan saat Anda mengerem mendadak.

“Maaf.. maaf.. aku lupa kalau sama kamu. Jadi lupa kalau harus belok gang yang ini,” Anda menerangkan.

“Kamu tu.., kaget tau,” kata-kataku masih tertahan, belum sepenuhnya kembali dari lamunan.

“Namanya juga lupa. Mana inget.”

Aku tidak banyak menjawab. Soalnya aku sendiri juga tidak memperhatikan jalan.

Kesadaranku semakin penuh seraya memperhatikan jas hujan yang ku pakai. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur atas apa yang ku miliki, semuanya berguna. Jas hujan yang banyak kembarannya ini, yang ku pakai sendiri, yang tidak ku bagi-bagi seperti mantel milik ayah, hanya ingin melindungiku lebih rapat dari dinginnya hujan saat ini. Hujan yang mengguyurku disaat aku tidak bersama ayah, ibu dan sayap Batman.

Ku angkat kepalaku setelah lama menunduk, akhirnya mataku menangkap pagar besi warna coklat. Artinya, rumah hanya tinggal beberapa putaran roda lagi. Anda memberhentikan motornya didepan pagar. Ditolehnya kebelakang hendak bilang, ‘sudah sampai istana, Tuan Putri.’ Tapi aku sudah lebih dulu meloncat turun dari motor.

“Etdaaah girang amat sampe rumah,” heran si Anda.

“Bodoamat. Thanks Anda-ku yang ganteng. Hati-hati pulangnya. Daaaah..,” aku ayunkan tanganku untuk Anda sambil menikmati hujan dari pagar sampai teras rumah.

“Besok mau dijemput lagi gak?” Anda teriak sambil mengangkat kaca helmnya.

Aku mengangguk saja supaya kalau hujan aku bisa menikmati pemandangan, lagi.





Etnika 2018

No comments:

Post a Comment

MAAF, TAPI INI SELALU PERTAMA

Masih irama berulang yang terkisah di setiap lembar cerita manusia, seperti kutukan yang tak pernah mampu dilepas. Sampai saat ini, pertem...