Aku
mengagumi hujan. Tetap selalu datang meski tidak dipanggil, tidak dengan lembut
disambut, bahkan malah disalahkan dan dimaki ketika tetesannya membasahi. Layaknya
hujan, hadirlah pada setiap orang dengan apa adanya meski mereka menolak.
Hampiri. Mereka hanya belum sadar bahwa mereka butuh kita.
Untung
saja hujan bukan kamu. Aku tidak yakin kamu mampu segigih itu menyapa duluan.
Kalau sampai hujan berhenti datang, seperti kamu yang berhenti berjuang, bumi
ini yang menderita kekeringan. Lalu, hujan lagi yang disalahkan. Itu sebabnya
setiap hujan datang aku ingin segera menjemputnya. Memeluk setiap tetes airnya
yang terjatuh, tinggi jauh tapi tidak juga menyakiti permukaan yang mereka
sentuh.
“Pakai
nih mantel kamu,” kata Anda, lengkapnya Gladiandra. Namanya juga teman, pasti
suka milih gampangnya aja.
Langit
rata tertutup mendung. Rasanya akan sampai malam jika harus menunggu berhentinya
kiriman hujan. Untuk ukuran yang bukan bocah lagi, pelukanku dengan gerombolan tetesan
air harus berbatas jas hujan.
Tidak
biasanya aku bersama Anda. Kebetulan, dosenku hari ini meminta kelas pengganti
jam 7. Ragu tidak bisa jalan cepat, aku lebih memilih menghubungi Anda untuk
minta jemput. Dan benar pilihanku. Dengan Anda, waktu tempuh ke kampus bisa dua
kali lebih cepat.
“Sebenernya
nggak pakai juga nggak apa-apa sih. Aku suka hujan kok,” tawarku.
“Rena-ku
sayang, aku minta kamu pakai jas hujan bukan karena aku gak mau kamu
kedinginan, sakit, make up luntur,
atau apalah itu,” warga gang sebelah ini memang suka bikin orang lain mengira
kita pacaran.
“Terus?”
keningku berkerut.
“Apa
kata orang nanti. Aku aman sementara kamu di belakang kuyup. Ntar dikiranya aku
cowok kejam, ga peduli, tega sama cewek. Belum lagi ntar ada yang diem-diem fotoin
kita terus unggah di media sosial. Hmmm jaman sekarang lihat dikit, komen. Mana
komennya ngga dikit,” paham kan kenapa aku ga biasa bareng dia.
“Gamau
‘dicoreng-coreng’ tuh mukanya,” sambil ku pakai aja biar cepat.
Aku
sedikit kesulitan memakai bajunya karena tasku besar. Ritsletingnya ga bisa
dibenerin.
“Ayo
jalan,” cengengesan gitu. Ga liat apa sini mantelnya masi kebuka. Karena teman
cowok itu paling bisa direpotin manja, kuserahin pada kedua tangan Anda. Terima
beres aja.
Gerbang
kampus terbuka lebar. Mau panas, mendung, hujan, tidak ada bedanya. Kedua roda
motor ini tetap berputar melewati jalanan yang basah. Banjir lebih tepatnya. Air
yang harusnya mengalir di selokan, kini turut berjalan di permukaan aspal.
Benar-benar deras merata.
Aku
menikmati suguhan pemandangan. Semua daun milik pohon di pinggir jalan,
biasanya menjerit risih atas polusi. Tapi sekarang aku melihat mereka seakan-akan
tersenyum dengan guyuran air yang melunturkan debu dan mengembalikan
kehijauannya. Segar. Satu kata yang mewakili kesejukan, kebersihan, dan
kedamaian. Ternyata yang tersenyum adalah aku. Sambil memejamkan mata dan
merentangkan kedua tangan. Sampai-sampai pengendara motor di belakangku
membunyikan klakson dan berteriak,
“Dek
tangannya tu lho. Bahayaa!”
Seketika
senyumku membeku. Mataku terbuka. Tanganku menyingkap, memeluk diriku sendiri.
Terkejut. Benar kata bapak-bapak itu. Bahaya. Untung ga dimarahin panjang
lebar. Cukup keras aja.
Tak
kalah kaget, Anda langsung bertanya,
“Kenapa,
Ren?” dengan nada agak teriak. Maklum namanya juga di jalan.
“Nggak
apa-apa sih. Hehehe..,” kalau aku cerita ntar dikira halu.
“Jangan
ngelamun. Nanti jatuh, repot.”
Kujawab
dengan senam mulut saja.
Sebelum
sampai di sebuah persimpangan, air rupanya diam tak mau mengalir. Entah mulus
entah berlubang, jalanan tidak menampakkan fisiknya. Kenapa aku pilih bareng
Anda, bukan yang lain, karena dia selalu hati-hati mengendarai motor apalagi
kalau sama cewek. Pelan-pelan. Berhubung jalanan umum, yang melintas tentunya
bukan cuma aku dan Anda.
Terlalu
fokus menatap ke depan, tanpa disadari, dari belakang ada sebuah mobil melaju
cukup stabil, kencang juga. Ban mobil yang nampak gagah, hitam, basah,
menggilas jalanan tanpa segan-segan. Air yang menggenang dan yang baru saja
turun, seketika naik seperti ditarik kembali oleh sang langit. Setinggi
mobilnya, bahkan lebih. Keren bukan? Dan itu terjadi tepat di sampingku ketika
sang mobil hendak mendahului. Nikmatnya kena guyuran tambahan.
Anda
dan aku teriak, tapi tak sama. Mungkin Anda agak kesal. Ya maklum saja. Setiap
orang punya perasaan sendiri-sendiri. Aku justru girang. Saat air itu menerpa,
aku langsung memejamkan mata. Padahal kaca helmku tertutup rapat. Lalu ku lihat
airnya segera turun, mengalir di setiap permukaan mantelku. Jatuh lagi. Jadi,
begini rasanya didatangi, lalu ditinggal pas lagi senang-senangnya? Hanya bekas
tetesan saja yang masih menetap.
“Wah
gila, sih. Basaaah..,” Anda menggerutu dengan tetap memperhatikan jalan, lampu
lalu lintas yang kebetulan merah.
“Namanya
juga hujan. Ya basah lah. Kan kita pake mantel. Aman udah.”
Hujannya
wajar bikin basah. Orang yang jatuh air. Kalau yang jatuh harta warisan, baru
deh diguyur kekayaan. Memiliki satu mantel ini saja sudah cukup membuatku
merasa kaya. Mengendarai satu motor berdua, mantelnya pun dua. Sendiri-sendiri.
Pikiranku
terbang menuju masa lalu. Jaman dulu, ketika masih setinggi pohon tomat dengan
bunganya yang menandakan panen akan datang. Di ketinggian segitu, sang pohon sudah
dapat membuahkan hasil, sementara aku masi digandeng dan digendong oleh ayahku.
Saat dimana kebutuhan yang dibeli masih sebatas permen, es krim dan obat cacing
jika ibuku yang membelikan.
Dulu,
saat hujan, ayah langsung mengeluarkan mantelnya dari bagasi skuter. Mantel
ayah tidak seperti baju. Berbentuk segi panjang dengan satu lubang ditengah
untuk bagian kepala, membuat sisi depan dan belakang mengelebat seperti
kelelawar. Mantel Batman namanya.
Dan
iritnya, cukup ayah saja yang memakai mantel. Aku dan ibu bersembunyi dibalik
sayap belakang. Jangan salah, mantel ayah itu panjang, lebar, dan sangat
menaungi anggota keluarganya. Dari kami bertiga, hanya ayah yang melihat jalan.
‘Berlindunglah kalian di belakang ayah! Biarkan ayah yang menerjang hujan ini
agar segera sampai rumah,’ begitu kiranya kalau ayah membahasakan ekspresinya.
Mungkin
ayah tidak ingin kami basah dan kedinginan. Benar, di dalam mantel aku sama
sekali tidak kedinginan. Malah justru gerah. Aku hanya menunduk. Mau menghadap
depan, terhalang punggung ayah. Menoleh ke kanan dan kiri, menatap mantel warna
coklat, secoklat kardus pindahan. Pemandangan statis.
Berbeda
dengan yang di bawah, aku bisa melihat jalanan. Air hujan yang menetes dari
sisi ujung mantel. Sesekali genangan yang terlewati menyipratkan airnya secara
tidak teratur. Yang seperti itu tidak berlangsung lama. Orang tuaku tidak
pernah berteman dengan hujan deras. Mungkin demi aku. Pasti hanya gerimis yang
bisa meyakinkan ayah untuk memulai perjalanan. Jadi, beberapa menit kemudian
biasanya hujan berhenti.
Lama-lama
aku bingung. Pusing. Menunduk. Melihat jalanan basah. Rasa-rasanya aku yang diam
dan jalannya yang bergerak. Bergeraknya mundur pula.
“Bu,
ini sampai mana?” padahal di sepanjang jalan aku memperhatikan jalanan,
merasakan kalau sedang belok. Tapi, pusing. Kayaknya dari tadi belok terus, kok
gak sampai-sampai.
“Sabar,
dek. Bentar lagi sampai kok,” nada ibu tidak pernah berubah. Menenangkan.
Sampailah
kami di rumah dalam keadaan kering dan selamat. Meskipun mengalami masa yang
pengap, aku selalu bersyukur ayah punya mantel Batman. Tidak pernah terlintas mantel lain untuk ku beli. Di
samping tidak tahu kalau ada yang bentuknya baju, tidak tahu beli dimana, tidak
punya uang, ya memang karena mantel itu sudah sangat cukup melindungi kami dari
hujan. Mantel dengan keleluasaannya menyatukan dan menghangatkan keluarga
kecilku dalam satu pelukan.
Lamunanku
buyar. Pikiranku terdorong kembali ke masa depan saat Anda mengerem mendadak.
“Maaf..
maaf.. aku lupa kalau sama kamu. Jadi lupa kalau harus belok gang yang ini,”
Anda menerangkan.
“Kamu
tu.., kaget tau,” kata-kataku masih tertahan, belum sepenuhnya kembali dari
lamunan.
“Namanya
juga lupa. Mana inget.”
Aku
tidak banyak menjawab. Soalnya aku sendiri juga tidak memperhatikan jalan.
Kesadaranku
semakin penuh seraya memperhatikan jas hujan yang ku pakai. Tidak ada alasan
untuk tidak bersyukur atas apa yang ku miliki, semuanya berguna. Jas hujan yang
banyak kembarannya ini, yang ku pakai sendiri, yang tidak ku bagi-bagi seperti
mantel milik ayah, hanya ingin melindungiku lebih rapat dari dinginnya hujan
saat ini. Hujan yang mengguyurku disaat aku tidak bersama ayah, ibu dan sayap Batman.
Ku
angkat kepalaku setelah lama menunduk, akhirnya mataku menangkap pagar besi
warna coklat. Artinya, rumah hanya tinggal beberapa putaran roda lagi. Anda
memberhentikan motornya didepan pagar. Ditolehnya kebelakang hendak bilang, ‘sudah
sampai istana, Tuan Putri.’ Tapi aku sudah lebih dulu meloncat turun dari
motor.
“Etdaaah
girang amat sampe rumah,” heran si Anda.
“Bodoamat.
Thanks Anda-ku yang ganteng.
Hati-hati pulangnya. Daaaah..,” aku ayunkan tanganku untuk Anda sambil
menikmati hujan dari pagar sampai teras rumah.
“Besok
mau dijemput lagi gak?” Anda teriak sambil mengangkat kaca helmnya.
Aku
mengangguk saja supaya kalau hujan aku bisa menikmati pemandangan, lagi.
Etnika 2018
No comments:
Post a Comment